GBHN telah menetapkan bahwa pembangunan yang sedang kita galakkan bersama dewasa ini bertujuan untuk membangun manusia seutuhnya dan membangun masyarakat Indonesia seluruhnya.
Jumlah penduduk yang besar, modal badan fisik biologis modal rohaniah dan mental, serta potensi efektif bangsa merupakan sebagian dari modal pembangunan.
Membangun manusia Indonesia seutuhnya berarti menjamin adanya peningkatan taraf hidup rakyat dari semua lapisan masyarakat dan golongan.
Peningkatan taraf hidup tercermin pada kebutuhan pokok yaitu pangan, sandang, pemukiman, kesehatan, dan pendidikan,
Masalah gizi yang terjadi pada masa tertentu akan menimbulkan masalah pembangunan di masa yang akan datang.
Oleh karena itu, usaha-usaha peningkatan gizi terutama harus ditunjukkan pada anak-anak dan ibu hamil.
Anak-anak memerlukan penanganan serius terutama jaminan ketersediaan zat-zat gizi sedini mungkin. Hzl ini disebabkan oleh beberapa alasan, di antaranya adalah:
a. Kekurangan gizi adalah penyebab utama kematian bayi dan
anak-anak. Hal ini berarti berkurangnya kuantitas sumber
daya manusia di masa yang akan datang.
b. Kekurangan gizi berakibat meningkatnya angka kesakitan
dan menurunnya produktivitas kerjs manusia. Hal ini
berarti akan menambah beban pemerintah untuk
meningkatkan fasilitas kesehatan.
c. Kekurangan gizi berakibat menurunnya kecerdasan anak-
anak. Hal ini berarti menurunnya kualitas kecerdasan
manusia muda yang pandai yang sangat dibutuhkan
dalam pembangunan bangsa.
d. Kurangnya gizi berakibat menurunnya daya tahan
manusia untuk bekerja, yang berarti menurunnya prestasi
dan produktivitas kerja manusia.
Peningkatan gizi masyarakat merupakan bagian integral pembangunan nasional dan juga merupakan bagian dari pembangunan manusia se utuhnya. Oleh karena itu, pemerintah membuat program-program yang bermuara kepada perbaikan gizi masyarakat. Adapun program-program perbaikan gizi yang sedang dan telah dilaksanakan di Indonesia selama ini meliputi:
Kegiatan usaha perbaikan gizi keluarga (UPGK)
○ Penanggulangan kekurangan vitamin A
○ Penanggulangan anemia gizi
○ Penanggulangan gondok endemik
○ Dan lain sebagainya.
Program pangan dan perbaikan gizi mulai mendapat perhatian khusus sejak Repelita II pemerintahan Orde Baru.
GIZI
Senin, 27 Maret 2017
Dasar Ilmu Gizi-Pangan dan Gizi
PANGAN DAN GIZI
Pada umumnya produksi pangan di negara-negara sedang berkembang meningkat dari tahun ke tahun, sekalipun demikian tiap tahun penduduk yang tidak cukup makan makin besar/ jumlahnya, lebih-lebih di negara miskin. Dengan demikian masalah kurang gizi juga bertambah.
Pangan dan gizi, adalah sesuatu gabungan kata yang sulit dipisahkan, karena berbicara gizi haruslah menyangkut pangan dan bahan makanan, dan ini tidak berarti bahwa pangan yang tidak bergizi menjadi tidak penting artinya, peningkatan produksi pangan haruslah dikaitkan dengan program kecukupan pangan dan gizi.
GBHN telah menetapkan bahwa pembangunan yang sedang kita galakkan bersama dewasa ini bertujuan untuk membangun manusia seutuhnya yaitu membangun badan fisik biologis dan mental spiritual dan membangun masyarakat indonesia seluruhnya. Disisi lain membangun manusia indonesia seuhnya berarti menjamin adanya peningkatanmtaraf hidup masyarakat dari semua lapisan masyarakat dan golongan. Peningkatan taraf hidup masyarakat tercermin pada pembangunan kebutuhan pokok yaitu pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan.
PANGAN
Pangan adalah bahan-bahan yang dimakan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan energi bagi pemeliharaan, pertumbuhan, kerja, dan penggantian jaringan tubuh yang rusak. Pangan juga dapat di artikan sebagai bahan sumber gizi.
Sektor pangan sebagai sumber bahan (zat) gizi merupakan sektor yang strategis, hal ini disebabkan oleh:
1. Produk Pangan
Sektor pangan merupakan industri massal yang melibatkan
banyak prang, baik di bidang produksi, pengolahan, dan
distribusi.
2. Pangan dikonsumsi oleh semua golongan/lapisan masyarakat
indonesia
Semakin besar jumlah anggota suatu keluarga akan semakin
banyak mengkonsumsi bahan pangan dan makanan.
Berdasarkan pemenuhan pangan, masyarakat dapat
dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu:
a. Kelompok Masyarakat Yang Kehidupannya Sulit
Masalah utama yang dihadapi oleh kelompok ini adalah
bagaimana caranya agar dengan daya beli yang
terbatas, mereka dapat menunjang kehidupan mereka
dengan sebaik-baiknya
.
b. Kelompok Masyarakat Yang Tergolong Beruntung
Yang dapat membeli jenis makanan apa saja yang di
inginkannya dalam jumlah yang tidak terbatas sehingga
pemenuhan gizi dapat terjamin. Malnutrisi pada
kelompok ini seringkali diakibatkan oleh konsumsi
makanan yang terlalu berlebihan, sehingga muncul
penyakit atau kelainan seperti hiperglikemia,
hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia, obesitas dan
lain sebagainya.
Dalam bidang produksi pangan terdapat permasalahan-permasalahan, di antaranya adalah:
1. Sentral Produksi Pangan Hanya di Daerah Tertentu
2. Produksi Pangan Masih Tergantung Kepada Musim
3. Produksi Pangan bersifat Fluktuatif yang Dipengaruhi
Oleh Cuaca dan Hama (Penyakit).
Pangan dan Gizi
Pangan menyediakan unsur-unsur kimia tubuh yang dikenal sebagai zat gizi. Pada gilirannya, zat gizi tersebut menyediakan tenaga bagi tubuh, mengatur proses dalam tubuh dan membuat lancarnya pertumbuhan serta memperbaiki jaringan tubuh. Beberapa diantara zat gizi yang disediakan oleh pangan tersebut disebut zat gizi essensial, mengingat kenyataan bahwa unsur-unsur tersebut tidak dapat dibentuk dalam tubuh, setidaknya dalam jumlah yang diperlukan untuk pertumbuhan dan kesehatan yang normal.
Pada umumnya zat gizi dibagi dalam lima kelompok utama, yaitu karbohidrat, lemak, protein, vitamin, dan mineral. Sedangkan sejumlah pakar juga berpendapat bahwz air juga merupakan dari zat gizi. Hal ini didasarkan kepada fungsi air dalam metabolisme makanan yang cukup penting.
Secara umum ada 3 status gizi yaitu status gizi kurang, status gizi seimbang (normal), dan status gizi lebih. Faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi seseorang adalah sebagai berikut:
1. Produk Pangan (Jumlah dan Jenis Makanan)
Jumlah macam makanan dan jenis serta banyaknya bahan
makanan dalam pola pangan di suatu negara/daerah
tertentu.
2. Pembagian Makanan atau Pangan
Secara tradisional, dibeberapa daerah, Ayah mempunyai
prioritas utama atas jumlah dan jenis makanan tertentu
dalam keluarga. Padahl justru anak-anaklah yang harus
diperhatikan terutama untuk proses pertumbuhan dan
perkembangannya.
3. Akseptabilitas (Daya Terima)
Akseptabilitas menyangkut penerimaan atau penolakkan
terhadap makanan yang terkait dengan cara memilih dan
menyajikan pangan. Adat dan tradisi merupakan dasar
Perilaku tersebut.
4. Prasangka Buruk Pada Bahan Makanan Tertentu
Kita janganlah terlalu berprasangka buruk terhadap bahan
makanan tertentu, sebab tidak semua bahan makanan
tersebut merugikan bagi manusia.
5. Pantangan Pada Makanan Tertentu
Sehubungan dengan pangan yang biasanya dipandang
pantas untuk dimakan, dijumpai banyak pola pantangan,
tahayul, dan larangan yang beragam yang didasarkan
kepada kebudayaan dan daerah yang berlainan.
6. Kesukaan Terhadap Jenis Makanan Tertentu
Dalam pemenuhan makanan apabila berdasarkan pada
makanan kesukaan saja maka akan berakibat pemenuhan
gizi akan menurun atau sebaliknya akan berlebih.
Tidak ada satu bahan pangan pun yang dapat menyediakan
zat gizi dalam kuantitas dan kualitas yang mencukupi
Kebutuhan gizi seimbang. Makan beraneka jenis bahan
pangan lebih cenderung dapat memenuhi kebutuhan
gizi seimbang.
7. Kebiasaan Makan
Pada umumnya kebiasaan makn seseorang tidak didasarkan
atas keperluan fisik akan zat-zat gizi yang terkandung dalam
makanan. Beberapa keluarga mengembangkan pola makan
dua kali sehari, pola makan tiga kali sehari, bahkan ada
juga keluarga yang mengembangkan pola makan jika lapar
dan berhenti makan sebelum kenyang.
8. Selera Makan
Selera makan juga akan mempengaruhi dalam pemenuhan
kebutuhan gizi untuk energi dan pertumbuhan,
perkembangan dan kesehatannya.
9. Sanitasi makanan (Penyiapan, Penyajian, Penyimpanan)
Dimulai dari penyiapan, penyajian, dan penyimpanan suatu
bahan makanan atau pangan hendaknya jangan sampai
kadar gizi yang terkandung dalam bahan makanan tersebut
tercemar atau tidak higienis dan mengandung banyak
kuman penyebab penyakit.
10. Pengetahuan Gizi
Kurangnya pengetahuan dan salah persepsi tentang
kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum di setiap
negara didunia.
Status gizi seimbang sangat penting terutama bagi
pertumbuhan, perkembangan, kesehatan, dan kesejahteraan
manusia.
Secara umum status gizi dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu:
a. Kecukupan Gizi (Gizi Seimbang)
Kebutuhan gizi seseorang ditentukan oleh kebutuhan gizi
basal, kegiatan, dan pada keadaan fisiologis tertentu,
serta dalam keadaan sakit.
b. Gizi Kurang
Gizi kurang merupakan keadaan tidak sehat (patologis)
yang timbul karena tidak cukup makan dengan
demikian konsumsi energi dan protein kurang dalam
jangka waktu tertentu. Berat badan yang menurun
adalah tanda utama dari gizi kurang.
c. Gizi Lebih
Keadaan patologis (tidak sehat) yang disebabkan
Kebanyakan makan. Mengkonsumsi energi lebih banyak
daripada yang diperlukan tubuh untuk jangka waktu
yang panjang dikenal sebagai gizi lebih.
Kegemukkan (obesitas) merupakan tandz pertama yang
biasa dapat dilihat dari keadaan gizi lebih.
Langganan:
Postingan (Atom)